Kamulah Cintaku

Oleh: Nazilatun N.

Di atas bukit yang dikelilingi bunga yang tengah bermekaran. Aku dan Arifin tengah duduk bersebelahan melihat indahnya pemandangan. Arifin melihat kearahku yang terlihat bahagia. Melihat hal itu, lidah Arifin terlihat kaku untuk mengatakan hal penting kepadaku. Melihat jam yang terikat di tangannya, Arifin ragu-ragu mengatakan hal penting kepadaku.

“Dea…” kata Arifin pelan.
“Iya, Arifin. Ada apa?”
“Ada hal penting yang mau aku katakan sama kamu” wajah Arifin mendadak murung. Aku menjadi bingung melihat hal itu.
“Hal penting apa, Arifin?”
“Kita akan berpisah” aku menatap kearah Arifin tak percaya. Arifin kembali mengangguk memastikan ucapannya benar.
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi suatu saat nanti aku akan menunggumu di tempat ini untuk menagih janjimu”
Arifin beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya meninggalkanku. Aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya melihat Arifin yang semakin jauh dari pandanganku.
***

[one_half][/one_half]

Tiga tahun berlalu……….!!!

Malam semakin sunyi. Aku masih asyik di depan jendela kamarku yang terbuka tirainya. Meski Arifin telah lama meninggalkanku, tapi bayangannya masih menghantuiku. Bagiku, dari Arifin lah aku bisa merasakan jatuh cinta. Meski semua itu tidak seindah yang aku bayangkan. Aku terkejut dari lamunanku saat pintu kamarku ada yang mengetuk.

“Dea, ini sudah malam. Cepat tidur” teriak Ibuku dari balik pintu.
“Iya, Ibu…” aku menutup tirai jendelaku dan berjalan ke tempat tidur.
“Jangan kembali melamun. Kalau besok kamu bangunnya ke siangan, jangan salahkan Ibu”
“Iya, Ibu. Tenang saja” kataku enteng. Ibu memang keras mendidikku, tapi walaupun seperti itu, aku tahu Ibu sangat menyayangiku.
***

Aku menjadi panik ketika jam hampir menunjukkan pukul tujuh. Aku yang panik membuat aku kebingungan mencari buku pelajaran hari ini. Aku keluar dari kamarku dengan bajuku yang tak beraturan.

“Gara-gara tadi malam sibuk melamun, aku bangunnya jadi kesiangan” eluhku sembari memakai sepatu.
“Makanya kalau malam jangan melamun sampai larut malam. Jadi kesiangan bangunnya kan?” kata Ibuku yang sibuk menyiapkan sarapan.
“Seharusnya Ibu bangunkan aku tadi, biar aku tidak bangun kesiangan” balasku sembari melahap roti yang ada dihadapanku.
“Kok kamu malah yang marah sama Ibu? Makanya jadi orang itu harus disiplin”
“Ibu, sudah telat malah diomelin” aku manyun.
Aku berlari sebisaku menuju kelasku. Aku menjadi gugup dan panik saat melihat sekolahku yang terlihat sepi. Saat aku sampai di depan pintu kelasku. Aku menabrak teman sekelasku yang telat sepertiku.

Di saat itu aku mendengar suara ledakan tawa dari dalam kelasku.
Aku melihat Bu Mita guru kimia yang sangat kiler berdiri dihadapanku. Bu Mita melotot dengan wajah seram kearah kami. Tanpa mengeluarkan suara Bu Mita menunjuk kearah lapangan. Aku dan Andre berlari ke lapangan saat mengerti maksud Bu Mita.

Aku dan Andre berlari mengelilingi lapangan. Matahari yang sudah keluar dari peraduannya membuat aku merasa panas. Aku hanya berjalan mengelilingi lapangan saat aku merasa lelah. Namun Andre yang berlari dihadapanku tidak sengaja menabrakku. Andre menarik tanganku dan aku berada di dalam pelukannya.

“Cie…. Dea” kata Lindi yang menyadarkanku. Aku mengalihkan pandanganku dan berjalan kearah sahabatku.
“Gimana dea, tadi seru gak?” sahut Indah tersenyum merayu.
“Yang pasti serulah, kan bisa berdua-duaan sama………..”
“Apa? Tidak usah mulai ngarangnya” balasku manyun yang menghentikan ucapan sahabatku.

Udara semakin panas. Seiring jam yang terus berputar, aku berjalan keluar dari gerbang sekolahanku. Aku pulang sendirian tanpa sahabatku yang biasa bersamaku. Dengan berjalan kaki, aku berjalan menuju rumahku. Namun langkahku terhentikan saat sepeda motor berhenti disampingku. Ternyata itu Andre yang mengulurkan helem ke padaku. Aku menerima helem itu dan membonceng Andre.

Andre menghentikan montornya di sebuah taman. Andre menggandeng tanganku dan mengajakku ke sebuah danau. Andre berlutut dihadapanku. Dan tiba-tiba Andre memegang tanganku.

“Dea, kita sudah lama saling mengenal. Semenjak itu aku mulai menyukaimu. Selama ini aku memang tidak bisa mengungkapkannya kepadamu, tapi hari ini aku ingin memilikimu. Dea, apakah kamu mau menjadi pacarku?”

Ucapan Andre membuatku terkejut. Aku tersenyum melihat Andre menyatakan cintanya kepadaku. Selama ini aku tidak pernah mengalami hal seromantis ini. Aku menganggukkan kepalaku, meski bayang-bayang Arifin melarangku. Andre tersenyum dan memelukku.
***

Sejak satu minggu yang lalu saat aku menerima Andre menjadi pacarku. Arifin selalu datang ke mimpiku seperti yang aku alami pagi ini. Dengan baju rapi, aku keluar dari kamarku. Aku berjalan menemui Ayah dan Ibuku yang menungguku di ruang tamu. Setelah aku selesai meminum segelas susu. Aku pamit kepada kedua orang tuaku untuk pergi sebentar.

Aku mendaki bukit yang menjadi kenanganku bersama Arifin. Tempat ini hanya aku dan Arifin yang tahu. Saat aku sampai di atas. Aku terkejut melihat bukit yang aku pijaki terlihat rapi dan bersih. Padahal sudah dua tahun lebih aku tidak kemari.

“Apa Arifin selalu datang kemari?” bisikku dalam hati.
“Sahabatku dimana engkau sekarang? Aku ingin mengulang masa-masa indah kita kembali. Arifin, apakah kamu mendengar rintihan hatiku kalau aku benar-benar merindukanmu?” aku berteriak.
“Aku selalu mendengar rintihan hatimu, Dea. Sebab itulah aku datang untuk menemuimu” aku menoleh kebelakangku saat mendengar suara yang tidak asing di telingaku.
“Arifin?” aku tersenyum tak percaya.
“Dea, aku datang menemuimu untuk menagih janji. Dulu kamu tidak pernah mau menerima cintaku karena kita masih kecil, tapi sekarang kita sudah dewasa. Jadi, apa jawabanmu untuk pertanyaanku dulu?”

Aku diam mendengar hal itu. Aku tidak mungkin menjawab iya untuk pertanyaan Arifin tadi, karena sudah ada Andre di hidupku, tapi aku mencintai Arifin. Suara handphon yang ada di dalam tasku berdering, membuat aku tersadar dari renunganku. Aku mengambil handphonku di dalam tas. Terlihat ada pesan masuk dari Andre yang mengabarkan kalau saat ini dia ada di rumah sakit.

“Ada apa, Dea?”
“Aku harus pergi, soalnya Ibuku mengabarkan kalau saat ini dia ada di rumah sakit” kataku bohong dan pergi dari tempat itu.

Aku berdiri di depan resepsionis. Aku bertanya nomor tempat Andre dirawat. Setelah aku mengetahui hal itu, aku langsung mencari kamar seperti yang dikatakan resepsionis tadi. Di ujung sudut di antara jajaran kamar. Aku menemukan kamar yang aku cari. Aku membuka pintu pelan dan melihat Andre terbaring sendirian.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” kataku sembari duduk di samping Andre.
“Hanya kecelakaan kecil” balas Andre dengan wajah pucatnya.
“Seharusnya kamu tadi lebih hati-hati”
“Iya, sayang. Khawatir banget sih” Andre tersenyum sembari memegang pipiku. Aku pun membalas senyuman andre tanpa menyadari Arifin yang mengikutiku dan melihat hal itu dari pintu yang terbuka sebagian.

Awan yang tadinya cerah telah berganti gelap. Rika berjalan sendirian di rumah Arifin yang terlihat sepi. Rika berlari ke kamar Arifin saat dia mendengar barang terjatuh dari dalam kamar Arifin. Rika terkejut saat melihat Arifin mengamuk dengan darah segar yang terus mengalir dari hidung Arifin.

“Arifin, sadar. Kamu ini kenapa?”
“Kenapa aku harus menderita dengan penyakit ini? Kedua orang tuaku sudah meninggal. Sekarang orang yang aku cintai juga akan meninggalkanku. Apakah aku dilahirkan untuk menderita seperti ini? Jika aku tahu hidupku akan seperti ini, aku tidak akan pernah mau dilahirkan”
“Aku bisa merasakan yang kamu rasakan saat ini, tapi apakah cuma gara-gara takdir hidupmu yang seperti ini kamu menyerah begitu saja? Arifin, buka matamu lebar-lebar dan lihat di luar sana masih ada kebahagiaan yang menunggumu. Kamu ini laki-laki, jangan mau ditaklukan sama takdir” mendengar ucapan Rika, Arifin menghentikan amukannya.
“Besok aku akan mengantarkamu kemo. Semoga dengan cara ini kamu bisa sembuh dari kanker otak”
“Mau bagaimanapun aku mengobati penyakitku, pada akhirnya aku akan tetap mati”
“Manusia itu hanya bisa berusaha. Aku yakin kamu pasti bisa melewati masa sulitmu ini” Rika tersenyum sembari memegang pundak Arifin.
***

— — To Bo continue Kamulah Cintaku (2)

Related posts

Leave a Comment