[LMK-GHDC] ANTARA DERMAGA DAN OCEAN POINT

Untitled-2

Ibarat terjebak dalam suatu sudut ruangan, aku mati langkah. Tak bisa keluar dan hanya menunggu waktu saja. Sekiranya ada jalan keluar, aku pasti akan berlari menujunya dan keluar dari jebakan yang telah menjeratku. Tapi apa daya, aku hanya bisa menunggu, tanpa bisa berlari.
***

Iyan:
Aku memejamkan mata, lalu kubentangkan kedua tanganku, indraku mulai mendeteksi, membuat manuver, menyempurnakan daya khayalku, menujumu, membayangkan tiga dimensi panjang, lebar, tinggi, membentuk segitiga tak bersudut, membayangkan semua dalam jangkauan tanpa batas, sungguh, aku merasakan keberadaanmu. Seketika mataku terbuka, demi melihat bayangan mengelebat di depanku. Itu kamu. Hanya sebentuk bayangan, tanpa menyapa kemudian pergi. Uuff… aku mengeluh dalam hati.

“Ijinkanlah aku mengatakan sesuatu padamu,” kataku. Tetapi terlambat, bayanganmu telah pergi dan menjauh, semacam kabut yang berlarian searah angin yang bertiup. Entah kenapa, suaraku seperti tercekat dalam tenggorokanku saja, hingga tak sampai pada telingamu. Sedang anganku mengembara, “Can you say something to me?” tapi hanya hening.
***

Hari ini aku menuju laut. Laut adalah tempatku sehari-hari. Aroma laut demikian kentara, adalah sesuatu buatku, yang membuat semangatku, kembali menyala. Aku bekerja di dermaga, mencatat dan mengatur arus datang dan perginya kapal di pelabuhan. Dermaga, bagiku penting. Dermaga, bagiku, memberikan segala dirinya untukku. Ibarat separuh jiwa, dermaga selalu menampung segala kesedihanku, keluh dan kesahku. Dermaga, bila bisa aku menetap di rumahnya, aku akan tinggal. Tapi dermaga hanya ada besi dan kayu, kasur tipis dan tak nyaman, tak mungkin aku menetapinya. Aku memiliki rumah sendiri, yang tak jauh dari dermaga.
Aku hanya ingin segala keluh kesahku diketahui dermaga, karena hanya dermaga yang mengertiku. Setelah sekian lama lukaku memerah, tak lagi terlihat setelah kutumpahkan segala keluh kesahku, dengan bekerja siang dan malam tanpa pernah merasa lelah. Itu sebabnya orang-orang salut padaku. Aku bekerja bagai tak mengenal lelah. Segala pekerjaan tentang dermaga dan jadwal selalu beres di tanganku.

Dermaga hari ini sepi. Aku tak begitu banyak kesibukan. Sesaat aku mengingatmu, yang berada di seberang bumi, jauh dariku. Aku yang mengatakan demikian, karena dirimu yang tak tersentuh oleh tanganku.

Suatu hari aku mengigau, aku merasa, bahwa kita hanya berjarak beberapa ratus meter saja, tapi jarak itu seakan berkabut dan menutup segala pandangan ke arahmu. Aku tak bisa menemukanmu! Lalu, cerita bahwa kau ada di dekatku, itu hanya anganku. Bahwa aku memimpikanmu, tak jauh dari tempatku berdiri. Tapi instingku mengatakan, bahwa kau ada di sini, di dekatku. Ini benar! Meski aku hanya menebaknya. Entah mengapa, aku merasa demikian dekat dan terikat batin denganmu. Kamu ada di dekatku! Sungguh!
Akan tetapi dermaga tak mungkin kutinggalkan, aku memiliki tanggungan di sini. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku. Tak setiap orang memiliki keahlian sepertiku, yang bisa menjaga dermaga sebaik aku dan satu temanku, yang bergantian menjaga dermaga. Sehingga aku jarang sekali keluar dari dermaga, kecuali waktunya pulang. Hingga sore, bahkan malam dan tengah malam, kadang aku masih di dermaga. Tapi, siapa tahu, bahwa tiba-tiba saja kita bertemu di sini, bukan?
== oOo ==

Nadia:
Sejak kau ciptakan pintu-pintu itu, semakin membuka tali-terali yang menyimpul. Lalu terdengar cerita panjang seperti tak berkesudahan, bahkan tak kekurangan kata-kata diucapkan, hingga aku tahu setiap ucap dan hembusanmu. Lalu mengapa masih saja ada batas tersembunyi, begitu pedihnya, mengira bahwa cinta itu itu tak sempurna. O, ketika selubung penghabisan terbungkam, aku bagai terlempar dan nyanyian abadi. Dirimu, tetap menyala, ada di hatiku.

“Nadia, maukah kau menjadi kekasihku?” katamu kala itu. Aku mengangguk. Tanganmu meraihku dan menyelipkan sebuah cincin bermata bening ke jari manisku. Aku tersenyum. Tapi ah, semuanya telah berlalu. Ada semacam dinding yang tak bisa terpatahkan, kita harus berpisah, oleh waktu dan sebuah peraturan. Kita tak bisa lagi bersama. Sedih tak terperi. Setelahnya, dirimu hilang bagai ditelan bumi. Meski aku sering mendengar kabarmu dari orang lain, tapi aku tak pernah menemukan dirimu secara nyata.
***

Ketika bergulat dengan kesibukan di antara berisiknya ombak, aku tahu, di ujung sana ada dirimu. Di belahan bumi yang tak jauh dariku, dirimu bergulat dengan besarnya kapal-kapal dan tumpukan jadwal. Keluarlah dari dermaga, berlarilah secepat angin, temui aku! Aku ada di sini, di dekatmu, dimana tak terlalu butuh waktu lama untuk menjemputku. Yakinlah, aku akan tetap setia menunggumu, meski berjuta waktu berlalu. Tetapi, mana pernah kau mendengarnya? Karena itu hanya ada dalam hatiku saja. Mungkin hanya angin lalu yang mampu mendengarnya, karena ungkapan itu tak pernah keluar dari mulutku.
Aku tahu dirimu bekerja di dermaga, tak jauh dari tempatku berdiri di sini. Tapi aku tak bisa menemuimu. Bukan aku tak mau, tapi tak bisa.
== oOo ==

Ocean Point:
“Nadia?”
“Iyan?”
“Mengapa di sini?”
“Aku bekerja di sini, hanya sementara, sampai proyek pembangunan Ocean Point berakhir. Lalu, kamu?”
“Aku bekerja di dermaga, tak menyangka, kita bisa bertemu di sini. Mengapa kau tak bilang? Bila tahu kamu ada di sini, aku akan segera menemuimu!”
“Aku takut mengganggumu, Iyan.”
“Tapi, mengapa begitu?” Iyan melirik jari manis Nadia, di sana masih terselip cincin pemberiannya. Apakah itu berarti Nadia masih mengharapkannya?
“Iyan, aku….” Nadia menghela nafas pelan. Ia memberi isyarat, bahwa di ujung sana sudah ada yang menunggunya. Pekerjaan — juga seseorang. Tak mungkin ia tinggalkan. Ia telah terikat. Lalu tentang cincin ini, Nadia menyayanginya seperti ia menyayangi sang pemberi cincin ini. Di jari kanan Nadia, ada cincin polos berukir sebuah nama, yang juga dari seseorang yang ia sayangi. Iyan memakluminya. Tapi berharap, bahwa Nadia sedang tak dimiliki siapa-siapa, dan hanya akan dimilikinya.
“____________”

“Nadia, stay with me.”
Nadia menggeleng, “Aku tak bisa.”
Sementara itu, di ujung arah pukul lima Ocean Point, di sebuah cafetaria, Samuel menunggu dengan sabar. Nadia menjauh dari Iyan, lalu beranjak mendekati Samuel.
“Siapa dia?” tanya Samuel.
“Teman, dulu pernah satu kelas.”
“Mengapa tak dikenalkan ke aku, Nadia?”
“Kapan-kapan saja, dia sangat keburu, pekerjaannya tak bisa ditinggal.”
“Oh,” Lalu mereka berlalu menjauh dari Ocean Point, juga menjauh dari laut.
Angin laut bertiup sepoi, menyapu rambut Nadia yang sebahu. Hem, Iyan, seandainya kita bertemu lima tahun lalu, aku akan kembali terpikat padamu. Entahlah.. Tapi ada satu hal, yang akan aku katakan padamu, stay with me, meski dalam ruang kosongku, di dalam hatiku. Bagaimanapun, dirimu pernah menghuni lama di hatiku, bahkan hingga sekarang, meski tak lagi dominan.
== oOo ==

Berkali-kali aku memahami pesan itu, tapi nyatanya pesan yang kau berikan harus menemui jalan yang berliku, hingga selalu datang terlambat untuk sampai padaku. Dan ketika pesan itu sampai padaku, pesan yang kau sampaikan begitu besar dan kuat, aku tak mampu menampungnya. Bagaimana jika tak kusimpan saja? Mungkin akan lebih berarti bila pesan itu jatuh pada orang yang tepat. Dan kelak akan menjadi kekasihmu yang setia. Dan itu bukan aku!
== oOo ==

Oleh : Wahyu Sapta

karya terbaik I LMK-GHDC

Related posts

Leave a Comment