[LMK-GHDC] Bidong

Untitled-2
“Akhirnya kandas juga setelah 12 tahun mengarungi bahtera rumah tangga …” Itu status FB terbaru seorang kawanku, Bidong.

Lantas, aku bikin status di sebuah grup FB:
“Hm, terjadi lagi … Mari saling ingatkan: Bersyukurlah yang menikah karena AGAMA [niat ibadah] — Perkawinan akan melahirkan buah kasih sayang [anak] … Beruntunglah yang menikah karena CINTA dan memperoleh mukjizat cinta — ‘Kalau cinta sudah dibuang/ Jangan harap KEADILAN akan datang’ [“Bongkar” Iwan Fals-Swami] … Cinta itu bukan ekonomi; cinta itu lawan kata benci; adakah kata ‘benci’ dalam kamus buah kasih sayang KITA?”

Sedangkan kita baru separuh jari sebelah. Ya, tiga tahun pun belum. Tetapi riak-riak benci dan kebencian mulai menampak di aura wajahmu; di suara katamu; di aksi ragamu; bahkan di karsa kalbumu. Mereka-mu mulai antre berdesak-desakan; berderet rebut-rebutan tuk menyeruak perakuanku. Mereka mulai colok-mencocok mata-telingaku; mereka mulai selisip-selusup hatiku; mereka mulai penuhi-sumpekkan benakku …
Aku tak dapat berpikir lagi, Bidong!
Ingatkah dulu, belum genap lima tahun, aku SMS-kan puisi ini:
Kamu mulai menari-nari di benakku

Kini, kuajak kamu tuk menikah
Modalku cuma punya langkah satu:
Niat NIKAH untuk ibadah
Kamu trauma laki-laki itu …
Aku trauma perceraian di keluargaku
Aku ingin hidup bersamamu
Seumur hidupku …

Ingatkah?
Kamu tak ba-bi-bu. Cuma dua bulan, justru kamu yang mengajak cepat menikah tanpa ta’aruf (pacaran) dulu. Katamu, “Alah … pacaran mah gampang; nanti kalau sudah nikah, CINTA akan muncul sendiri!”
Nah, lo, hayoh …! [perlukah ku-inbox FB Tuhan tuk kirimkan rekaman audio-visual peristiwa itu, Bidong?]
Sayang, kamu tak aktif di FB. Coba kalau aktif, kita takkan miskomunikasi; kita takkan amateri. Tak percaya?
Inilah natijah dari mata-hatiku; konklusi laporan raga-jiwaku dan sesungguhnya kamu sedang mendengarkan kaset butut yang sepertinya kamu suruh tuk disetel berulang-ulang:

“Setahuku, sudah empat generasi di keluargaku mengalami kawin-cerai. Berarti dari buyutku turun ke nenekku turun ke ibuku turun ke kakak-adikku. Jangan ditanya dan dihitung siapa yang paling banyak kawin-cerai di antara mereka karena kamu sudah tahu … Siapa yang mau cerai? Tak ada, bahkan masih bergema hingga kini koor ibu-bapakku dari dua dunia, ‘Menyesal cerai!’ Tapi di sering ruwak [ruang-waktu], mereka sebarkan virus benci-kebencian kepada anak-cucunya …!”

Nah, berarti, Bidong, kamu sudah tahu bahwa perkawinan akan melahirkan kasih sayang, sedangkan perceraian akan melahirkan kebencian. Pantaslah ada Hadis, “Cerai itu halal, tapi dibenci Tuhan.”
Kamu sih tidak aktif di FB … padahal sudah kupuisikan ke FB:
stop perceraian karena akan melahirkan
kebencian
penyesalan
nyandu
nular

Ya, Bidong, mengatasi masalah adalah mengenali masalahnya dulu. Mengapa terjadi perceraian? Meski hipotesis, tapi sepertinya representasi dari mayoritas terjadinya perceraian. Aku simpulkan dua, yakni: amateri dan miskomunikasi. Tidak ada materi, ada komunikasi; kagak bakalan cerai karena bisa diatasi misalnya dengan iuran keluarga besar atau manfaatkan link internet seperti komunikasi dengan teman-teman FB. Tetapi amateri plus miskomunikasi, waduh alamat cilaka … riak-riak itu membuih kan jadi gelombang apalagi ditingkahi resiprokal cecuitan camar dan pelikan kan hantam-tubi-keroposkan karang mahligai keluarga …

Masih nda percaya? Coba kalau kamu di sampingku, kita dengarkan bareng lanjutan kaset butut ini: “… Keluarga sehat itu hanya ada ayah, ibu, dan anak, selain itu ialah tamu ‘negara’, meski orang tua, mertua, saudara kandung, saudara ipar, kawan, relasi, apalagi pembantu rumah tangga karena mereka pun punya negara sendiri!”
Bidong, masih ingatkah peristiwa kita bertengkar hebat gara-gara masalah sepele, tapi menjadi trending topic ‘abadi’ di rumah kita? Ya, masalah uang; masalah amateri … Untunglah pas tayang film serial “Jodha Akbar” di televisi, sehingga tanpa dikomando, kita sepakat kibarkan bendera putih; khususnya kamu yang terlena sejam ke depan … [lumayan … hehe]

Hm, Bidong, haruskah kurekam, ku-shooting, sidang-sidang perceraian kedua bapakku yang sedang berlangsung di Pengadilan Agama, di kota kelahiranmu, itu …? Kamu kan tahu, bapak dan ibu tiriku sudah menikah 34 tahun … dan kamu masih menomorsatukan materi seraya mem-provokasi aku tanpa ‘suara hati’; kamu lantangkan kata-kata terlarang dan terulang hadir dalam kamusku … nan menderu-embus terpa tepat ke dengus hidungku yang sopan: ‘pisah’ … ‘cerai’ … ‘pisah’ … ‘cerai’ …!

Ya, aku berusaha tuk tahu diri; sadar diri. Dalam satu masalah, dua pihak punya andil. Besar/kecil itu perspektif; benar/salah itu subjektif … serta kita sepakat Tuhanlah Yang Mahabenar dan aku menagih kesepakatan yang lain: kebahagiaan adalah kebersamaan!

Mungkin, mudah-mudahan yang akan kuminta ini tidak menambah resah-susahmu; tidak mengganggu waktu kerjamu; tidak menyela waktu mengasuh anak kita; tidak menyita waktu istirahatmu … Aku hanya minta aktiflah di FB atau–permintaan yang sesungguhnya adalah–mari… Mari ke sini, pulang!
Cepat pulang … Cepat kembali … Jangan pergi lagi … [“Firasat” Marcell Siahaan] … Terima kasih, Bidong, JIKA kamu lekas buka inbox-mu itu …
Bandung, 20160327, 02.52

Karya Terbaik II LMK- GHDC
A. L. Azhar

Related posts

Leave a Comment