[LMK-GHDC] Semua Karena Cinta

Untitled-2

“Kita putus aja ya, Lan,”
Arlan terbelalak. Dia tak menduga apa yang disampaikan Riana, gadis yang nyaris setahun ini menjadi kekasihnya. Padahal mereka sudah tak bertemu selama sebulan. Alih- alih pertemuan berbalut rindu, yang ada gadis itu malah mengungkapkan kata perpisahan.
“Maksud kamu?” Arlan berusaha tenang. Meski ritme jantungnya sudah tak lagi beraturan.

“Hubungan ini nggak akan berhasil, Lan,” ujar Riana. Gadis itu menghela napas panjang sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya, “Aku minta maaf,”
“Apa- apaan sih, An!” seru Arlan gusar. “Aku sudah bilang dari awal, kalau aku serius denganmu. Tidak pernah sekalipun berniat main- main,”
Riana mengangguk. Ketenangan yang dimunculkan gadis itu membuat Arlan berdecak dalam hati. Sepertinya mudah sekali baginya memutuskan hubungan ini. Tidak tahukah dia betapa aku mencintainya…
“Aku tahu, Lan. Aku tahu kamu nggak main- main. Kamu serius. Kamu cinta aku. Aku juga mencintai kamu, tapi…,”
“Tapia pa, An?” potong Arlan tak sabar.
Riana menarik napas pendek. “Kamu tahu itu, Lan.”
“Ya Tuhan, Riana…,” Arlan mengerang frustasi. “Please, semua juga sebatas rekan kerja dan fans aja. Nggak lebih.”
“Sayang aku, cinta aku cuma buat kamu, Sayang,” lanjut Arlan menambahkan.
“Aku tahu.” Riana menganggukkan kepalanya lagi. “Kamu nggak salah, Lan. Masalahnya justru di diriku sendiri. Aku nggak mau egois. Kamu berhak dapat yang lebih baik dan memahami kamu,”
“Tapi aku sayangnya sama kamu, An.”

Riana tersenyum getir. Jauh di dalam lubuk hatinya menyesali keputusan yang telah dibuatnya, tapi lagi- lagi logikanya berjalan. Untuk apa menjalani hubungan yang hanya membuat luka hati. Lebih baik diakhiri bukan?
Toh, waktu pula yang nantinya akan menyembuhkan lukanya. Hanya butuh sedikit waktu.
“Terima kasih. Kuharap kamu mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku, Lan.” ucap Riana setulus hati. Ia bangkit dari kursinya, “Kurasa ini pertemuan terakhir kita, aku minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku lakuin ke kamu. Maaf dan permisi.”

Arlan ternganga. Riana benar- benar serius. Tak pernah sekalipun ia menyangka hal ini akan terjadi. Jika selama ini ia yang sering mencampakkan gadis- gadis, kini giliran dia yang ditinggalkan. Ada sesak yang tiba- tiba menghantam dadanya. Sakit, perih. Terdapat lubang tak kasat mata yang menganga di hatinya. Nafasnya tercekat.
Ya Tuhan, ini kah rasanya patah hati.
***

Seminggu berlalu. Seharusnya semua baik- baik saja bagi seorang Arlan. Menjalani hubungan dengan wanita kemudian berakhir adalah sesuatu yang biasa terjadi pada dirinya. Tapi tidak kali ini. Putus dengan Riana adalah hal yang paling disesali sepanjang hidupnya. Riana, gadis yang berbeda dari mantan- mantannya sebelumnya. Jika mereka mendampinginya karena harta dan popularitas, Riana berbeda. Bahkan gadis itu enggan disorot kamera dan diwawancarai seperti pasangannya yang lain.
“Yang artis kan kamu, bukan aku.” tolaknya setiap diajak tampil di layar kaca. “Aku nggak mau dibilang aji mumpung.”
Ah Riana, kamu benar- benar berbeda.
“Suntuk amat sih, bos!”
Suara Bram, sahabatnya menyadarkan kesadaran Arlan. Ia mendongak lalu membuang muka. Bertahun- tahun bersahabat dengan Bram, lelaki itu pasti dengan mudah membaca sikap murungnya.
“Soal Riana, hem?”
Arlan menoleh. “Tahu dari mana?” tanyanya dengan memicingkan mata. Tak lama mulutnya terbuka, sadar kalau ada seseorang yang memberitahu Bram. “Ngomong apa lagi si Tomi. Ck, nggak bisa apa dia itu diam sedikit. Jaga privacy gue,”
Bram tergelak. “Dia cuma.”
“Khawatir atau emang niat ngegosip,” cibir Arlan. Tomi, manajernya memang sulit dipercaya meski sejatinya dia lelakinya yang baik.
“Jadi?” Bram mengabaikan omelan Arlan.
Arlan mendesah. Dihelanya napas panjang, “Riana nggak sanggup bertahan karena profesiku.”
“Dia cemburu karena kamu sering berakting dengan wanita- wanita cantik?”
Arlan melirik sinis. “Buatku Riana yang tercantik.”
“Ya ya ya.” Kekeh Bram manggut- manggut. “Lalu?”
“Aku sudah bilang berkali- kali jika hubunganku dengan mereka sebatas pekerjaan. Tak lebih. Tapi bukan hanya itu saja. Dunia yang kujalani selalu bersinggungan dengan publisitas juga kehidupan malam. “
“Riana tak menyukainya?”
Arlan mengangguk. Ia menghela napas berat, “Kamu tahu kan dia gadis baik- baik. Hidup dalam lingkungan keagamaan yang kental. Jadi jelas alkohol, kehidupan malam, wanita bebas, tidak bisa dia tolerir.”
Sesaat hening.
“Aku sudah menduga hal ini pasti akan terjadi,” ucap Bram lirih. “Lalu rencanamu?”
Bahu Arlan terangkat. Ia menghela napas berat. “Aku tidak tahu,”
“Kau mencintainya?” selidik Bram tajam.
“Tentu saja. kalau tidak mana mungkin aku bertahan nyaris setahun, “ jawab Arlan, “Aku bahkan berpikir akan melamarnya bulan depan bertepatan dengan ulang tahunnya.”
Mata Bram melebar mendapati fakta yang baru terucap dari bibir sahabatnya. Arlan berpikir pernikahan?
Benar- benar langka!

Arlan sejak dulu dikenal sebagai artis yang doyan berganti pasangan. Player sejati! Baginya wanita hanya sekedar pemuas nafsu belaka. No komitmen.
Tapi sekarang?
Riana, benar- benar gadis yang memukau, bisik Bram dalam hati.
“Semua kembali ke dirimu, Dude!” Bram bersikap bijak. “Kamu tahu apa yang terbaik untuk dirimu sendiri. Kuberitahu satu hal, popularitas dan kemewahan hanya sementara. Jangan pernah memujanya, karena ada saatnya Tuhan menginginkan miliknya kembali.”
***

Mata Arlan sulit terpejam. Benaknya terlalu banyak memikirkan banyak hal dan semua tak lain tak bukan karena sosok Riana. Arlan tak pernah menduga jika akhirnya dia jatuh hati dengan gadis ceria bertubuh mungil tapi bergerak dengan gesit selama kegiatan sosial yang diadakan dalam rangka ulang tahun sebuah stasiun televisi, dimana dirinya menjadi pengisi DI salah satu acaranya.

Arlan terkesima. Riana, nama gadis yang kemudian dia ketahui sangat sabar dan ramah melayani para warga yang hendak mengecek kesehatannya. Ya, Riana seorang dokter. Dokter cantik pemilik senyuman indah yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan Arlan dengan segala pesona dan kharismanya tak sulit untuk berhubungan dekat dengan gadis itu.

Bersama Riana, Arlan merasakan cinta yang sesungguhnya. Riana pula yang membuatnya berpikir tentang pernikahan dan keluarga. Selamanya ia tak bisa hidup sendiri, dia butuh wanita untuk mendampinginya seumur hidup. Wanita yang kelak menjadi ibu bagi anak- anaknya dan Arlan yakin wanita itu Riana.
Hanya Riana.

Mungkinkah jika bukan dia? cibir Arlan dalam hati
Dihelanya nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sesaat matanya terpejam. Hampir sepuluh tahun berkecimpung di dunia entertainment, dia tahu benar bagaimana kelamnya dunia yang dia jalani. Kehidupan malam yang bebas pun pernah dia rasakan. Dirinya sudah mengalami banyak hal di dunia yang melambungkan namanya seantero pelosok negeri.
Sanggupkah ia meninggalkan dunia ini?
***

Dua tahun kemudian…

“Marry me, An!” Meski gugup, Arlan berusaha tenang. Ia tak mau gadis dihadapannya mengira dirinya main- main.
“Hemm, itu terdengar seperti perintah daripada sebuah lamaran,”
Arlan meringis mendengar ucapan Riana. Ya, pada akhirnya Tuhan selalu punya rencana indah untuk setiap umatnya.

Benak Arlan kembali ke masa dua tahun silam. Saat dimana dirinya gelisah karena kepergiaan Riana. Saat itu lah kilas balik dalam hidupnya terjadi.

Memiliki segalanya dan terkenal ternyata tak menjamin kebahagiaan dalam hatinya. Arlan menyadari hal itu. Maka perlahan ia pun mulai memperbaiki diri menjadi lebih baik. Tawaran syuting mulai dikurangi, juga kehadirannya di klub- klub malam dan pesta hura- hura. Dia mulai serius memikirkan masa depan. Dengan penghasilannya selama ini, ia mencoba membuka usaha bisnis rumah makan. Meski nama besarnya berpengaruh tak serta merta membuatnya jumawa. Arlan sangat memperhatikan kebersihan dan kelezatan makanan yang disajikan direstorannya.

Sedikit demi sedikit kesuksesan mulai menghampiri Arlan. Kesibukannya meembuatnya tanpa sadar mulai meninggalkan dunia entertainment. Arlan tak pernah sekalipun menyesal, justru ia berbangga hati untuk pencapaian yang telah diraih.
Dan Tuhan tak pernah tidur.

Selalu ada kejutan indah dibalik setiap takdir yang dijalani manusia.
Tiga bulan lalu ia kembali dipertemukan dengan Riana di sebuah acara pernikahan sahabatnya. Desir itu masih ada. Rasa itu pun nyatanya tak pernah lekang. Dan setelah memastikan Riana masih berstatus single, tak menunggu lama bagi Arlan untuk melamar gadis itu.

“Jadi?” Kening Arlan mengerut. Riananya masih belum menjawab secara gamblang. Ditatapnya gadis itu lekat- lekat.
“Well! Mapan, kaya, mempesona dan rela berkorban…,” Riana tersenyum lebar, “Emang aku bisa nolak?”
Detik selanjutnya tubuh Riana sudah berada dalam dekapan seorang Arlan.
***
Lampung, Penghujung Maret 2016
Imas Siti Liawati
Karya Terbaik III LMK-GHDC


Related posts

Leave a Comment