Seindah Pelangi Seusai Hujan Reda

Oleh; St. Masruroh

Senja gemulai menyapa bibir pantai selatan. Matahari serasa mengambang diatasnya. Semburat pancaran teduh sinarnya, seakan melukis langit biru begitu indahnya. Memanjakan dua kornea mata, terasa tak ingin berpaling darinya. Begitulah yang dirasakan. Hanya dikala senja datang menyapa. Gadis cantik berjilbab itu tidak pernah melewatkan senja di pantai walau satu hari pun. Karena semua itulah yang membuat takjub kepada penciptanya. Waktu yang selalu digunakan untuk merenungkan akan segala yang Ia lakukan hari itu, membuatnya terasa semakin begitu dekat pada penciptaNya.

“Mbak… Mbak Hanifa Ayo pulang, dicariin ibu tuch…” Teriak seorang gadis cantik diseberang jalan membuyarkan lamunannya.

“Iya sebentar…” Jawab Hanifa dengan suara keras pula.

“Ah, mbak selalu lupa semuanya kalau lagi di pantai.” Ucap gadis itu sembari menghampiri Hanifa.

“Ya… yaaa… Shi… Ini mbak pulang.” Hanifa berdiri mendekati gadis yang dipanggilnya Shi itu, sembari menggandeng tangannya.

Shi adalah nama panggilan untuk adiknya, sayangnya dia gak seperti Hanifa kakaknya. Shi gak suka pakai jilbab, bikin gerah dan panas katanya. Shi selalu bertanya kepada Hanifa “Kenapa dia selalu suka di pantai di waktu senja?” Tapi Hanifa tak pernah memberi tahukan alasannya kepada Shi.

Semenjak ayah mereka meninggal enam bulan yang lalu, Hanifa tak kembali lagi di pondok. Dia memilih membantu ibunya berjualan kue dan aneka makanan ringan di rumah dan ingin meringankan beban ibunya itu alasannya. Padahal, sebenarnya ia masih ingin kembali ke pondok.karena ada alasan lain yang membuatnya berfikir dua kali untuk kembali ke pondok. Hanifa begitu menyayangi Shi, walau kadag Shi menjengkelkan. Kadang Hanifa butuh teman untuk curhat,dia gadis yang pendiam. Di kala dia merasa kesepian dia rindu akan suasana dan teman-temannya di pondok, hingga membuat butir-butir aair matanya menetes, walau kadang di pondok juga membuatnya lelah akan semua kegiatan yang harus dilakukan, belum lagi jika ada masalah dengan teman-temannya. Tapi, selalu ada teman yang lain yang menghiburnya, walau sekedar hanya untuk cerita. Namun, itu semua bisa meringankan semua beban itu. Ah… Aungguh indah masa-masa itu. Ingin Hanifa rasanya mengulangnya kembali. Tapi, kini semua itu hanya tinggal kenangan.Hanifa tak pernah bercerita kepada orang lain tentang semua masalahnya, karena dia tak ingin membebani orang lain. Walau kadang dia gak kuat harus memendam itu sendiri, kadang dia hanya cerita dengan sahabat di pondok yaitu Alvi dan dengan ayahnya. Dan kini ayahnya sudah tidak ada. Dia suka menulis semua masalah yang dialaminya di kertas lalu menaruhnya di botol dan di hanyutkan di laut bebas. Menurutnya itu sedikit mengurangi bebannya. Selain itu dia juga sering curhat dengan Allah dengan keheningan malam.

 

Di ruang tengah.

“Bu…. Shi boleh minta sesuatu gak?” Shi mendekati ibunya.

“Minta apa?” Tanya ibu sembari menyiapkan kue-kue yang akan di jual.

“Ehm, Shi pingin ngelurusin rambut, Bu. Boleh gak?” Ucapannya manja.

“Apa?!” Kata ibu dan Hanifa serempak.

 “Maksud kamu, kamu mau boanding rambut gituch? Gak… gak boleh, Shi!” Lanjut Hanifa ketus.

“Tapi, kan mbak… Shi malu punya rambut keriting. Gak ada cewek yang suka sama rambut keriting, Mbak.” Jawab Shi.

“Kalau kamu malu, ya…. pakai jilbab! Gampang kan, Shi?” Suara Hanifa agak memelan.

“Apa? Pakai jilbab. Gak, Shi gak mau pakai jilbab, bikin gerah aja. Lagian kenapa sich, mbak sewot banget.” Ucap shi sebel.

“Udah… udah, ya… kapan-kapan aja Shi, kalau ibu udah punya uang. Yang penting kamu sekolah yang benar dulu!” Tegas ibu untuk mendamaikan mereka.

“Ibu…. Shi tuch udah gede’, jangan di manjain terus.” Pinta Hanifa pada ibunya.

“Apaan sich mbak. Gak usah propokator dech. Kenapa sich sekarang mbak berubah, apa mbak sekarang gak sayang lagi sama Shi? Iya kan, Mbak…. Shi benci sama mbak, Shi gak suka di kekang!” Kata Shi ketus sembari berlari ke kamarnya.

Kata Shi barusan benar-benar membuat Hanifa terkejut. Dia tak menyangka adik yang dia sayangi akan berkata seperti itu. Membuat hatinya terasa sakit.

“Hanifa….” Panggil ibu menyadarkannya dari lamunannya. “Kamu gak papa?” Tanya ibu dan Hanifa hanya menggelengkan kepalanya.

“Udahlah, Nif. Kita turuti saja kemauan Shi. Ibu tahu kamu gak pingin Shi kayak temen-temennya yang lain. Tapi anak-anak seusianya masih labil dan gak suka di atur-atur. Ibu cuma takut, dia ngelakuin suatu hal yang nekat. Kamu lihatkan tadi?” Ibu mencoba menenangkan Hanifa.

“Iya, Buk. Tapi….” Ucap Hanifa tiba-tiba berhenti.

“Sudahlah, kita berikan dia pengertian sedikit demi sedikit.” Suruh ibu kepada Hanifa.

“Shi benci sama mbak.” Kata-kata itu selalu terngiang di fikirannya. Apakah perkataan Hanifa benar-benar menyakiti Shi, sampai-sampai Shi berkata seperti itu kepada Hanifa. Setelah peristiwa itu Shi jarang sekali berbicara dengan Hanifa, setiap kali Hanifa mencoba bertanya pada Shi, dia langsung menghindarinya. Sudah hampir satu minggu sikap Shi seperti itu kepada Hanifa.

Seperti biasa dikala senja datang Hanifa pergi ke pantai. Dia duduk diatas bebatuan. Di bawah pohon yang rindang menulis, segala apa masalahnya lalu memasukkannya kedalam botol dan melemparkan ke laut.

“Kenapa kamu sukamelempar botol berisi surat ke laut?” Tanya seorang laki-laki mengejutkan Hanifa.

Dengan segera Hanifa membalikkan badannya dan melihat siapa yang bertanya padanya. “Bukan urusan kamu.” Jawab Hanifa dengan lugas dan kaku sembari melangkah pergi dari laki-laki itu. Tapi, laki-laki itu terus mengejarnya dan terus bertanya. Namun Hanifa terus melangkahkan kakinya dan bersikap acuh kepada lelaki itu.

“Hei… Mbak. Saya selalu melihat mbak melakukan hal itu setiap sore. Kenapa sich mbak kok lakukan itu?” Tanya laki-laki itu.

“Sudah ku bilang. Bukan urusan kamu. Sudah jangan ikuti ak terus.” Ucap Hanifa ketus.

“Tapi, mbak…” Tiba-tiba laki-laki itu berhenti.

“Shi…..” Hanifa menghentikan langkahnya tiba-tiba, matanya membelalak  melihat apa yang Shi lakukan. Lalu, Hanifa mempercepat langkahnya menuju ke tempat Shi berada dan laki-laki tadi hanya melihatnya dari kejauhan, tak ingin ikut campur.

“Shi, kamu ngapain sama cowok di pantai?” Tanya Hanifa marah.

“Mbak… Em… Nggak ngapa-ngapain kok. Emang gak boleh ya Shi jalan sama cowok? Shi tuch udah gede’ mbak, ngapain sich masih ngurusin urusan Shi terus, sana urusin urusan mbak sendiri!” Jawab Shi sembari bangun dari tempat duduknya.

“Shi….” Tangan Hanifa bersiap menampar Shi.

“Tampar mbak, tampar Shi! Shi benci sama mbak.” Shi menggandeng tangan cowok itu dan pergi meninggalkan Hanifa begitu saja.

“Shi…. mbak gak bermaksud gituch. Mbak sayang sama Shi, mbak Cuma gak mau Shi kenapa-napa. Mbak cuma pingin kamu tahu pesan dari Ayah Shi, hanya itu….” Hanifa tertelungkup di meja menangis terisak-isak.

“Mbak… mbak gak apa-apa?” Tanya laki-laki tadi mengejutkan Hanifa, secepat mungkin dia menyeka air matanya.

“Kamu lagi ngapain sich, masih ngikutin aku terus. Sana pergi! Aku lagi pingin sendiri.”

“Maaf mbak, saya Fahri… Kalau boleh tahu perempuan tadi siapa mbak?”

“Sudah ku bilang, bukan urusan kamu. Tolonglah ngertiin aku!”

“Baiklah kalau begitu, saya akan pergi. Ini kartu nama saya, kalau mbak butuh temancerita mbak bisa hubungi saya atau mbak bisa menemui saya di dekat jembatan sana. Setiap sore saya juga suka ke sini.” Fahri meletakkan kartu namanya di atas meja dan enyah dari tempat itu, membiarkan Hanifa sendiri dalam tangisnya.

Semakin hari sikap Shi semakin menjadi. Ibu dan Hanifa sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Ibu menyesal selama ini selalu memanjakan Shi, tapi kini nasi sudah mendadi bubur.

Sore itu, Hanifa tengah duduk memandang ke arah laut. Tampak sebuah kejanggalan dalam wajah cantiknya itu, tampak tengah bergumul hati yang gulana. Tiba-tiba seorang anak kecil menghampirinya sembari memberikannya setangkai mawar putih yang indah tanpa memperkenalkan diri dan memberi tahu dari siapa bunga itu, anak itu langsung pergi.

“Hay….. Assalamu’alaikum.” Salam seorang laki-laki di belakangnya.

“Wa’alaikumsalam… Kamu lagi!” Hanifa menengok ke belakang dan ternyata laki-laki itu adalah Fahri.

“Ya… Aku. Bolehkah aku duduk? Kan aku kasih tahu siapa yang ngasih bunga itu.”

“Ehm… Baiklah.” Jawab Hanifa ragu.

Sejenak hening diantar mereka, mereka memandang ombak yang berdebur-debur menerjang batu karang.

“Andai aku bisa jadi seperti batu-batu karang itu…” Ucah Hanifa memecah keheningan diantara mereka.

“Kenapa harus jadi batu karang?” Tanya Fahri.

“Karena batu-batu sangat kuat menahan terjangan ombak. Sekeras apapun ombak itu datang dia tetap menyambutnya.” Jawab Hanifa masih tetap dengan pandangannya.

“Kau wanita yang kuat dan misterius.” Kata Fahri lirih hampir tak terdengar karena terbawa semilir angin.

“Apa katamu?” Tanya Hanifa memastikan.

“Oh, tidak apa-apa.” Fahri gugup namun dia berkilah.

Sejenak suasana hening kembali, mereka sibuk masing-masing memahami apa yang ada dan dikatakan oleh hati mereka.

 

Ulang Tahun Shi

 

Tepat malam ini adalah hari bahagia untuk Shi. Malam dimana dia nanti, malam yang akan mengiringinya ke dunia yang lebih dewasa. Shi terjaga dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 23.40 WIB, sementara seisi rumah masih terlelap. Dia bangun dan bergegas ke belakang, entah hal apa yang mendorongnya untuk mengambil air wudhu malam itu. Entah mengapa hatinya berkecamuk rasa yang aneh. Dalam sujudnya tiba-tiba air matanya luluh dan menetes membasahi pipinya, meski tanpa dia pinta. Perasaan apa ini? Shi bertanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja bayangan ayahnya melintas di benaknya, seperti berharap sesuatu padanya. Tapi apa? Shi juga tak mengerti. Terbayang kembali kesalahan-kesalahannya masa lalu. Air mata terus mengalir begitu derasnya bagai hujan bulan Desember tanpa bisa dia cegah.

Kemudian dia kembali berbaring menutup kedua matanya yang masih basah. Tak lama setelah terlelap lagi dia terhenyak dari tidurnya. Dia bermimpi bertemu dengan ayahnya. “Shi… Selamat ulang tahun ya, Nak.” Tiba-tiba ekspresi yang semula sangat ramah dan penuh dengan senyuman, mendung seketika wajah ayahnya berubah menjadi murung. “Shi jangan menyusahkan orang-orang di sekitarmu. Mereka sayang sama Shi. Shi saat ini bukan Shi yang ayah kenal dulu. Pinta ayah padamu ada di tangan kakakmu, jadi seperti kakakmu adalah harapan ayah, nak…” Tiba-tiba bayangan itu semakin memudar, transparan dan hilang. Shi mencoba memanggi. “Ayah…. Ayah… Shi sayang  ayah…” Sia terbangun seperti orang di kejar setan, dadanya tersenggal-senggal.

Keesokan harinya  ternyata Hanifa dan ibunya sudah menyiapkan kejutan untuk Shi. Shi menitihkan air mata haru. Ternyata kakaknya masih sayang padanya. Namun Hanifa dan ibunya tak kalah kagetnya saat Shi keluar kamar dengan memakai seragam panjang dan berkerudung. Ibunya langsung menghampirinya, menitikan air mata bahagia, sembari memeluk Shi. Pagi yang indah untuk  Hanifa, semua berjalan seperti yang dia inginkan. Hanifa yakin selalu ada rencana yang lebih baik dari Tuhan dari pada rencananya.

Satu minggu setelah ultah Shi kini berjalan seperti semula. Sepertinya Hanifa mulai dekat dengan Fahri, mungkin benih-benih cinta telah tumbuh diantara mereka berdua. Namun, Hanifa tak percaya dengan perasaannya itu. Karena dia tak mungkin secepat itu suka sama cowok yang baru dia kenal. Berbeda dengan Fahri, dia malah semakin yakin dengan perasaannya itu. Namun, dia belum terlalu memperlihatkannya kepada Hanifa.

Mungkin karena Hanifa sering tukar cerita dengan Fahri jadi membuat mereka semakin dekat. Shi yang sering melihat kakaknya berduaan dengan seorang laki-laki di pantai, membuatnya penasaran, siapakah laki-laki itu. Sehingga membuatnya cerita sama ibunya. Sesampainya di rumah Hanifa langsung di panggil ibunya.

“Hanifa, kemari! Ibu mau bicara.” Panggil ibu ketus.

“Ada apa, bu?” Tanya Hanifa sembari berjalan ke arah ibunya.

“Hanifa… Siapa cowok yang sering kamu temui di pantai? Apa kamu pacaran sama dia?”

“Laki-laki… bukan buk. Dia bukan pacar Hanifa. Kita cuma teman, aku sama dia juga gak sengaja ketemu di pantai buk. “

“Tapi ibu dengar dari tetangga kamu sering berduaan di pantai sama dia. Dari pada membuat fitnah mending ibu nikahin saja kamu sama anak teman bapakmu yang sudah di jodohkan sama kamu waktu bapakmu masih hidup” Ibu mengingat kembali kenangan-kenangan masa lalu.

“Apa bu? Nikah….. gak Hanifa belum siap bu, Hanifa masih pingin ngebahagiain ibu dulu. Gak bu… Hanifa gak mau nikah dulu.” Hanifa terkejut terhadap apa yang dikatakan ibunya.

“Kalau kamu pingin ngebahagiain ibu, kamu harus nikah sama Rian. Dan mulai sekarang kamu gak boleh lagi ke pantai.”

“Tapi, bu… Ibu….” Hanifa memegang tangan ibunya yang berkesiap pergi. Namun, segera di ibaskan oleh ibunya. Hanifa menangis di lantai. Shi yang hanya melihat dari ambang pintu kamarnya hanya bisa melihat merasa iba pada kakaknya.

Semenjak itu, Hanifa lebih sering mengurung diri di kamarnya. Rasa rindu pada Fahri tiba-tiba mengusik hatinya yang sedang kalang kabut. Dia memandang ke luar jendela setiap kali senja datang mengundangnya ke pantai. Terbayang saat-saat bersama Fahri disana. Entah perasaan apa yangsedang berkecamuk dihatinya, mencoba memungkiri perasaan itu, tapi malah semakin kuat rasa itu di hati Hanifa. Ingin rasanya bertemu dan bercerita dengannya, tapi kini waktu telah berbeda. Hampir dua minggu Hanifa tak bertemu dengan Fahri, rasa itu semakin menyiksa dirinya.

Senja kala itu, Hanifa melihat pelangi seusai hujan lebat reda. Angan-angan terbayang entah kemana, membayangkan andai hujan itu adalah ujian untuknya saat ini dansemoga saja pelangi ituadalah akhir dari ujian ituyang berakhir bahagia itu adalah harapannya.

 Tiga hari lagi pernikahan Hanifa dengan Lelaki yang belum Ia tahu kan berlangsung. Demi kebahagiaan ibunya, Hanifa rela melakukannya meski semua tak sejalan dengan fikirannya. Hari yang tak diharapkan Hanifa pun datang. Rumahnya sudah ramai banyak orang. Sementara lima belas menit lagi pihak laki-laki akan datang. Hanifa semakin gugup, ingin rasanya dia kabur dari rumahnya. Saat sang pihak laki-laki datang Hanifa dan keluarganya menyambutnya dengan ramah dan bahagia. Namun, Hanifa hanya bisa menunduk menyembunyikan air mata yang deras mengalir dari pelupuk matanya. Andai ayahnya masih hidup pastilah ini tak akan terjadi.

Hanifa mencoba memberanikan diri untuk menatap laki-laki itu. Betapa terkejutnya Hanifa siapa yang sekarang ada dihadapannya sekarang.  Ternyata dia adalah Fahri, betapa terkejutnya dia. Hatinya berkecamuk, antara bahagia, sedih bercampur menjadi satu. Ah… Akhirnya semua seperti pelangi seusai hujan reda, bahagia datang seusai kesusahan yang dia lewati selama ini.

 

(End)

Related posts

Leave a Comment